Kamis, 27 Agustus 2026
Hot

Unas Bekali UMKM Depok Literasi Digital & Keamanan Siber

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Nasional berikan pelatihan literasi digital kepada UMKM Bojongsari, Depok. Fokus pada keamanan siber, penipuan finansial, dan pemanfaatan AI yang bijak.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS, DEPOK – Mahasiswa Pascasarjana Universitas Nasional menggelar pelatihan literasi digital untuk UMKM Bojongsari guna menangkal kejahatan siber dan memanfaatkan Kecerdasan Buatan, Sabtu (1/8/2026).

Kegiatan ini berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Bojongsari, Depok, hasil kolaborasi dengan UMKM Bosama, WomenPedia, Tutur Bangsa, serta Pemerintah Kota Depok. Puluhan pengusaha UMKM setempat hadir untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang komunikasi digital dan keamanan siber.

Senior Editor Tutur Bangsa, Rita, membuka sesi pertama dengan membahas tantangan komunikasi dan minimnya pemahaman hukum di ranah digital. Ia menyoroti praktik doxing yang rentan dilakukan oleh UMKM saat menghadapi kerugian.

“Meski pedagang tersebut dirugikan, menyebarkan data pribadi terduga pelaku di ruang publik dapat berpotensi menjerat si pengunggah dengan hukum. Pelaku bisa dikenakan minimal tiga pasal, yakni Pasal 27A dan Pasal 45 ayat 4 Undang-Undang ITE, serta Pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik,” ujar Rita.

Article ad in the middle of article

Rita menekankan pentingnya empat kurikulum kecakapan digital dari Kementerian Komunikasi dan Digital, meliputi digital skill, digital ethics, digital safety, dan digital culture. Ia juga menyarankan pelaku UMKM untuk memisahkan nomor kontak pribadi dan bisnis demi mencegah pencurian data.

Materi dilanjutkan oleh Ria Tanjungpura, praktisi dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), yang memaparkan berbagai modus kejahatan siber. UMKM kerap menjadi sasaran karena transaksi daring, promosi via WhatsApp, dan sistem keamanan akun yang masih lemah.

Modus kejahatan yang sering terjadi meliputi tautan phishing seperti resi paket atau surat tilang palsu, peretasan akun, investasi ilegal, dan pinjaman daring ilegal. Pelaku sering memanipulasi kepanikan korban untuk mencuri data penting seperti kode OTP.

“Gunakan password yang kuat—kombinasikan huruf kapital, angka, dan tanda baca—serta ganti secara rutin. Jangan pernah membagikan OTP kepada siapa pun, bahkan kepada pihak yang mengaku sebagai bank,” ujar Ria Tanjungpura.

Jika menjadi korban penipuan finansial, Ria menyarankan untuk segera menghubungi bank dan menekan angka ‘0’ untuk terhubung langsung dengan operator. Langkah ini bertujuan untuk memblokir dana secepatnya dan menghindari antrean mesin penjawab otomatis.

Sesi penutup mengenalkan Kecerdasan Buatan (AI) oleh Veronika Savitri dan Muhammad Dilan, yang menguraikan manfaatnya bagi UMKM. AI dapat meningkatkan efisiensi melalui chatbot 24 jam, otomasi stok barang, pembuatan desain logo, hingga analisis target pasar.

Namun, teknologi canggih ini juga banyak disalahgunakan oleh penjahat siber melalui modus deepfake. Video dan voice cloning digunakan untuk meniru identitas orang terdekat, seolah-olah dalam kondisi darurat dan meminta transfer dana.

Ibu Santi, salah satu peserta UMKM, berbagi pengalaman pahitnya saat saldo di empat rekening banknya terkuras habis akibat penipuan. Penipuan terjadi melalui telepon yang mengaku dari customer service aplikasi dagang daring di luar jam kerja.

“AI itu ibarat pisau bermata dua. Bisa sangat memudahkan, namun bisa juga sangat membahayakan kita. Semua tergantung pada bagaimana kita mengendalikan teknologi tersebut,” simpul Veronika Savitri.

Pelatihan yang berakhir pukul 15.00 WIB ini diharapkan dapat membekali pengusaha UMKM. Mereka diharapkan tidak hanya mampu berjualan secara daring, tetapi juga mengelola komunikasi digital yang etis, meredam krisis, dan menangkis kejahatan siber demi kemajuan ekonomi lokal.

Article ad after last paragraph