Selasa, 08 September 2026
Hot

Warga Fakfak Olah Ikan Sibula Jadi Produk Pangan Bernilai

Tim Ekspedisi Patriot Unhas latih warga Kampung Sahari Fakfak mengolah ikan sibula menjadi bakso hingga sambal awet empat bulan tanpa pengawet.

Article ad before first paragraph

Heri Purwadyo Penulis | Ipnu Subroto Editor

HARIANEXPRESS, FAKFAK – Kementerian Transmigrasi bersama Tim Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin mendampingi 20 perempuan di Kampung Sahari, Fakfak, mengolah ikan sibula menjadi beragam olahan pangan bernilai ekonomi, Selasa (8/9/2026).

Pelatihan tersebut mencakup teknik pengolahan hasil perikanan serta tata cara pengemasan produk. Sebanyak 20 peserta dibimbing dalam empat kelompok usaha kecil yang dilengkapi sarana produksi serupa.

Selain kelompok perempuan, nelayan laki-laki turut memperoleh edukasi mengenai penanganan hasil tangkapan secara higienis. Seluruh perlengkapan kerja selama kegiatan langsung diserahkan kepada kelompok warga guna menjaga kelanjutan usaha.

Article ad in the middle of article

Ketua TEP Unhas Kasmiati menyatakan pembinaan ini diarahkan agar masyarakat terus mempraktikkan keterampilan pengolahan secara mandiri setelah program selesai.

“Kami melakukan pendampingan intensif kepada warga agar mereka benar-benar dapat melakukan pengolahan hasil laut secara mandiri dan ke depan ini akan menjadi kemandirian ekonomi untuk mereka,” ujar Kasmiati.

Melalui program ini, warga berhasil memproduksi berbagai varian olahan seperti bakso, nugget, kerupuk, abon, hingga sambal ikan. Bahan baku utamanya memanfaatkan ikan sibula yang melimpah di perairan setempat namun selama ini berharga jual rendah bila dipasarkan segar.

TEP Unhas juga memberikan pendampingan teknik sterilisasi kemasan yang memungkinkan sambal ikan tahan disimpan empat bulan di suhu ruang tanpa bahan pengawet. Warga menyambut baik keterampilan baru tersebut untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

“Tadinya ikan hanya kami jual utuh atau untuk dimakan. Sekarang kami bisa bekerja mandiri untuk menambah ekonomi rumah tangga,” kata salah satu peserta pendampingan Nayu Ohebor.

Nayu menambahkan bahwa para peserta berencana mendiskusikan pembentukan unit usaha bersama demi menopang keberlanjutan produksi.

“Insya Allah kami bermusyawarah untuk membentuk satu kelompok usaha permanen dari hasil kegiatan ini,” ujarnya.

Kegiatan pendampingan di kawasan Weri-Saharey Fakfak ini merupakan bagian dari TEP 2026 yang menerjunkan 1.476 peserta dalam 246 tim di 53 kawasan transmigrasi. Unhas menjadi salah satu dari 10 perguruan tinggi mitra dengan mengelola 25 tim beranggotakan 125 orang.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya menekankan pengembangan wilayah transmigrasi harus bertumpu pada karakteristik dan keunggulan lokal daerah.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono turut mendorong peningkatan kualitas SDM demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

Langkah penguatan ekonomi desa dan hilirisasi sumber daya alam ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto guna mendorong ketahanan pangan serta memajukan koperasi masyarakat.

Article ad after last paragraph